Farm

Mari bertani

Beberapa bulan terakhir ini gw nyoba manfaatin lahan kosong yang boleh dibilang gak produktif di lingkungan tempat tinggal gw, kenapa dibilang gak produktif, coz dilahan itu cm dijadiin pembuangan berangkal-berangkal sisa bangunan yang dengan seenaknya dibuang warga sekitar, sayang tanah subur itu dibiarin gak produktif, maka setelah berkonsultasi dengan beberapa warga, gw putuskan mengolah lahan tersebut jadi kebun kecil yang bisa bernilai ekonomis,,  akhirnya gw coba menanam jenis tanaman yang gak terlalu ngebutuhin banyak modal, dan pilihan gw jatuh pada tanaman saosin/sesin/caisim sp (Brassica juncea)  berjenis tosakan Bangkok, sebelum gw cerita soal pengalaman gw berkebun kemaren, gw kasih sedikit gambaran tentang caisim yang gw tanam.
Sosin/sesin/Caisim sp (Brassica juncea) termasuk kedalam family cruciferae (kubis-kubisan), yang gw tau tanaman ini bukan asli tanaman yang berasal dari Indonesia, tapi dari mediterania, gw kurang tau pércis dari Negara mana tanaman caisim ini berasal. Seperti jenis tanaman lainnya caisim juga punya beberapa varietas/jenis, salah satunya adalah varietas Tosakan, varietas ini dapat dipanen pada umur 22 hari setelah tanam, tinggi tanaman 40 cm, warna tangkai putih kehijauan, jumlah daun 12 helai, bentuk daun eliptik,punya potensi ngasilin rata-rata 400gr per tanaman, namun cirri yang paling bisa dikenali dari caisim tosakan adalah memiliki warna daun hijau muda, daunnya gak pahit, seperti jenis caisim-caisim berdaun hijau tua, nah kalo komposisi media tanam, jenis tanah, ph tanah, suhu, treatment tanaman,cara pencegahan OPT gw jabarkan saja nanti kalo tuhan masih mempertemukan kita semua sayang wakakakakak..
Cerita punya cerita mulailah gw pada praktek di lapangan, berbekal satu plastik benih caisim tosakan cap panah merah, benih caisim ditabur dengan penuh cinta dan kasih sayang pada bedeng tabur yang sebelumnya telah gw campur antara tanah subur (top soil), pupuk bokasi, dan sekam hasil pembakaran,, sayangnya musim penghujan sekarang ga bisa diprediksi secara pasti,jadi memerlukan pasokan air ke tanaman harus dibantu sama bantuan tangan kita,,karena gw sama sekali ga pake larutan/bahan kimia yang berbahaya buat kehidupan manusia dalam proses berkebun, respon dari tanaman untuk menyerap unsur hara dalam tanah atau pupuk memang agak lambat, karena sifat bokasi (pupuk organic) memang bukan buat treatment instant seperti pupuk anorganik macam kcl,urea dan npk,,,kalo pupuk organic tuh selain sehat, bisa memperbaiki kesuburan tanah yang sebelumnya rusak oleh unsur kimia, namun kesuburan tanah akan terlihat saat kita menanam untuk kedua kalinya di lahan yang sama, dan keuntungan lainnya adalah pupuk organic (bokasi) dapat bertahan subur untuk jangka waktu lama, bisa ampe 2 tahun..aman, sehat dan ekonomis kan ?!
Ok, sementara sambil gw nunggu benih-benih tersebut sedang berkembang sebagai tanaman sexy, gw nyiapin lahan buat pemindahan bibit caisim nanti setelah 1-2 minggu,, sama seperti bedeng tabur, lahan pemindahan tanaman haruslah berisi campuran top soil, bottom soil, bokasi dan sekam hasil pembakaran biar nanti setelah 2 minggu tanahnya siap buat dicecebin tanaman hehehe..
Singkat cerita, tumbuhlah benih-benih yang tadinya berupa biji menjadi bakal bibit yang siap di pindah ke media tanam / lahan yang udeh gw siapin sebelumnya, dari situ kita tinggal nunggu sang sosin tumbuh besar jadi tanaman yang cantik dan baik hati untuk dipanen dan dijual ke pasar…
Waktu berlalu, seiring hujan yang datang hilang tersapu angin,,caisim yang gw tanam tumbuh gagah perkasa jadi tanaman ganteng yang ngasih gw duit dikantong, tapi sayang caisim organic yang gw tanam terdapat banyak bolong-bolong di daunnya, usut punya usut ternyata bolong-bolong tadi disebabkan ulat jengkal yang bebas berkeliaran di kebunku,, harusnya gw sejak dari awal ngebangun vegetasi alami buat jadi penangkal Organisme Perusak Tanaman kaya ulat tadi, beberpa petani local di daerah rumah gw nyaranin buat pake obat2an kima macam dupon ato antrakol, tapi karena misi utamanya adalah menciptakan nuansa “go green” gw keukeuh panen dengan keadaan tanaman bolong2..
Seharusnya sebelum mutusin buat berkebun, kita harus memperhitungkan dampak serangan yang bakal terjadi, macam ulat2 tadi, salah satunya adalah menjaga sanitasi (lingkungan) kebun dengan baik, sehingga ekosistem kebun akan terjaga kealamiannya, cara pencegahan yang lain yaitu dengan menggunakan puradan untuk perlakuan awal pada tanah, supaya OPT lain berjenis nematoda (cacing) tak akan secara eksplosive menyerang kebun kita, cacing yg gw maksud bukan cacing besar yang sering kita liat lod-lodan ngerangkak di tanah yang berfungsi buat lubang oksigen di tanah, tapi cacing (nematode) yang gak bisa dilihat oleh mata telanjang dan telanjang badan, cuz tuh cacing ukurannya sangat kecil dan hanya bisa dilihat pake mikroskop (kata ahli pertanian), Cuma serangannya bisa dilihat ditanaman kita, pokonya ujug2 layu leuleus lunglay si tanaman teh, karena yang diserang akar tanamannya.

Oke back to topic, sampailah kita ke proses pemanenan yang mengharukan disertai air mata kebahagiaan wkkkkkk….proses menimbang, packing dan memasarkan… woo oo oo ternyata respon masyarakat tidak begitu baik ya, padahal udah gw ungkapkan bahwa bolong-bolong kecil di tanaman ini adalah resiko alamiah dari tanaman organic, gw juga udah jelasin kalo kita ga maen pake kimia2an lagi, eeeeh tetep aja mereka berasumsi kalo  tanaman yang sehat itu yang gak ada bolong-bolongnya, tanaman yg sukses itu yg cepet panen pake urea ma NPK,,, hahahaha kayanya paradigma masyarakat kitamah yang ganteng,cantik,perlente meyakinkan itu udah pasti mantap, ga tau otaknya bolong kaya domba ompong, paradigma masyarakat kitamah gaya dulu, cover dulu, urusan sehat, urusan penyakitmah belakangan aja hwkkkkk heran :(
Perlu ente ente tau kalo tanaman-tanaman yang cepet panen/tumbuh trus keliatan cantik ga ada bolong dst itu kemungkinan mempergunakan bahan2 anorganik yang berbahaya buat kesehatan kita, u must know, kalo residu kimia yang terendap dalam tubuh kita lewat tanaman-tanaman cantik tapi gak sehat tadi akan berpotensi nimbulin kanker setelah 10 tahun dari saat kita memakannya,,,whkkkk sukuuur tuh yang kemaren ga mau beli..

Standar

3 thoughts on “Mari bertani

  1. Tedy Priyadi berkata:

    siap mas, saya juga masih belajar koq, kita sama2 share pengalaman ya..ditunggu lho kabarnya kalo dah mulai tanam, selamat mencoba mas :)

  2. purnama berkata:

    nice info,mo numpang nanya nih,saya baru blajar nanam caisim dlm pot.udah seminggu-dua minggu koq masih gitu2 aja wujudnya(masih cotyledon)daun asli blom nampak.apa pertumbuhan organik emg selama itu?btw sy pk bokashi+tanah+sekam

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s