Story of Me CLICK HERE

13 Februari 2003 untuk Persib

dsc003361Malam itu 21.30 WIB, 13 Februari 2003, suasana panas menyelimuti stadion siliwangi bandung, maklum saja ketika itu Persib “The Stupid Baby Spice” Bandung kembali menelan kekalahan dari tamunya Pelita Krakatau Stell Cilegon, lewat gol penentu dari pemain yang musim ini “DIBUANG” oleh “Management persib dan seorang Polandia bodoh bernama Marek.

usai pertandingan, umpatan dan makian keluar dari bobotoh menyikapi penampilan buruk Persib Maung Bandung, bahkan banyak sekali gesekan antara bobotoh seusai partai tersebut,yang saya ingat pentolan viking,yudi baduy cs terlihat bersitegang dan hampir mengeroyok bobotoh di pintu tribun vip..suasana memang kurang kondusif saat itu, panas, dan penuh emosi.

Singkat cerita, malam semakin larut, suasana stadion siliwangi pun mulai sepi, hanya ada sebagian bobotoh yang tersisa menuju pulang kerumahnya masing-masing dan para pedagang kaki lima penjual merchandise persib yang sedang bersiap pulang dan membereskan dagangannya. Tak ada hal istimewa lain malam itu, masih kuisap sebatang rokok yang menemaniku berdiri di sudut jalan aceh itu, sampai rombongan tim Persib melintas keluar meninggalkan stadion siliwangi, saat itu aku sedang menunggu angkot cicaheum – ledeng di perempatan jl.aceh, sekitar jam 10 malam, entah kenapa tiba-tiba adrenalin dan kekesalanku memuncak melihat pemain-pemain persib sempat melirik, tersenyum dan melambaikan tangannya kearahku, waktu itu aku berfikir bahwa pemain persib benar-benar tak tahu malu (tak merasakan apa yang telah bobotoh berikan) dan harus diberikan shock therapy untuk bisa lebih memahami artinya kesedihan Bobotoh.

Tanpa memperdulikan efek yang bakal kualami, aku dengan sangat kesal dan emosional kemudian melemparkan sebuah batu ke arah bus rombongan persib tersebut (Bus Kramat Jati),…lalu beberapa saat kemudian, praaak..kaca bus persib hancur tepat di bagian tempat duduk udin rafiudin, sontak para pemain persib, official dan sebagian bobotoh yang masih berada di sekitar stadion siliwangi memburuku dengan emosi “penuh kebodohan,kesadaran palsu” dan akhirnya menangkapku didepan Rumah Sakit PMI jl.aceh, kontan saja pukulan, tendangan, dan segala macam hukuman fisik menerpaku, yang kuingat bek Persib Ruhiat dan asisten pelatih Sukowijoyo yang sangat bernafsu memukuliku, disamping Bobotoh-bobotoh “Tolol” yang hidup dalam kebodohan mendukung “Macan ompong” seperti Persib …sambil setengah sadar aku berteriak teriak untuk menghentikan serangan mereka, namun Ruhiat dan pemain Persib yang lain tampaknya memang terlatih juga untuk jadi seorang preman, ya mungkin bisa difahami karena ‘konon’, ketua umum Persib yang merangkap Walikota Bandung saat itu, AA Tarmana,juga sering memperlakukan wartawan dengan sentuhan-sentuhan fisik seperti itu..

Akhirnya suasana mereda ketika pihak keamanan dari Kodam Siliwangi mengamankanku dari serangan para pemain dan bobotoh persib yang BODOH itu. Dengan luka parah di kedua mata dan kepalaku yang terus menerus mengalami pendarahan,aku digiring ke POLWILTABES Bandung layaknya seorang maling ayam, padahal diluar sikapku itu, tertanam keinginan yang dalam untuk memberikan api semangat buat Bobotoh untuk bertindak layaknya ultras, dan bukan cheerleader2 yang hanya bisa haha hihi dan terus menari melihat Tim kesangannya kalah terus..

Kejadian tersebut hanyalah satu dari sekian banyak sikap-sikap feodal dan primordial masyarakat pasundan yang menjurus pada arogansi absolut yang diperlihatkan sebagai bentuk sepak bola tradisional yang kolot dan penuh keterbelakangan, jika persib tak tahan kritik, maka mereka pantas masuk keranjang sampah saja dan tak kita tak perlu menghabiskan uang kita ke stadion,mungkin min.nya akan menimbulkan efek jera dan kesadaran,bahwa kita yang menggaji mereka lewat uang rakyat

Aku sadar bahwa yang kulakukan adalah melanggar hukum, namun ini adalah sebuah konsekuensi dari sebuah bisnis hiburan dan fanatisme, menurutku sikap seperti ini wajar kulakukan, karena aku cinta terhadap persib. Dalam dialektik berfikirku, Persib bukan hanya tim sepak bola, namun kebanggaan dan ideology, lewat Persib kita punya suatu kebanggaan yang tak pernah pemerintah Indonesia berikan pada rakyatnya, aku tak malu dan menyesal melakukan itu, karena jika ucapan dan kritikan lisan sudah tak mampu didengar, maka aksi frontal untuk pembaharuan mesti dilakukan, meski “sedikit” arogan dan anarkis.Persib harus menerima itu sebagai sebuah bentuk profesionalisme penyajian hiburan dan fanatisme

Standar

2 thoughts on “13 Februari 2003 untuk Persib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s